Toleransi Beragama Bukan Dengan Mengikuti Ritual Agama Lain

Toleransi Beragama


Bagaimanakah toleransi yang benar dalam Islam?
Toleransi beragama bukanlah dengan cara mengikuti ritual agama lain atau mencampur-adukkan antara ritual Islam dengan ritual agama lain. Menjaga diri dari mencampuri, membiarkan penganut agama lain sesuai dengan keyakinan mereka, itulah toleransi yang dimaksud dalam Islam. Bukan toleransi namanya jika justru melanggar aturan agama islam sendiri, dengan alasan-alasan menghargai pemeluk agama lain, ini sungguh tidak benar.
Toleransi seharusnya dipahami dengan benar, yaitu dengan menghargai agama lain dari cara pandang agama kita yaitu islam, bukan malah mengikuti dan larut dalam ritual agama lain. Contohnya, pada hari ini tanggal 25 Desember 2014, saudara kita ummat kristiani merayakan perayaan natal, maka biarkanlah itu jadi hari raya bagi mereka, bukan hari raya bagi kita. Oleh sebab itu kita tidak perlu repot-repot memakai atribut-atribut natal atau mengucapkan selamat natal, karena itu adalah hari raya mereka, biarkan dan hargai saja.
Jangan sampai, cuma karena alasan toleransi, aturan agama Islam sendiri dilanggar. yang ada malah kemaksiatan yang merajalela, atau justru mendukung kekufuran yang jelas-jelas nyata. Bergaul dan bermuamalah dengan siapapun manusia boleh-boleh saja, Islam sangat menghormati manusia, tapi aqidah dan ibadah? harus tetap berlandaskan Al-Qur'an dan Sunnah serta pemahaman Salafushshalih.
Kita mengetahui bahwasanya aqidah itu adalah dasar keyakinan, yang diatasnya agama dibangun, termasuk aqidah ummat kristiani saat ini, yang meyakini bahwa Yesus itu Tuhan. Bagi ummat kristiani, 25 Desember adalah hari kelahiran "Tuhan Yesus", itu aqidah mereka, maka mengucapkan selamat natal itu bagian dari aqidah mereka yang tidak boleh kita ikuti.
Ada sebagian orang mengatakan: "yang penting niatnya nggak gitu, hati aku masih yakin Islam kok" | wilayah niat itu bukan urusan kita, makanya Islam menata yang terlihat. Dan niat itu harus sesuai dengan amalan yang diatur dalam Islam.
Ada pula yang mengatakan: "ini kan cuma ucapan, nggak sampai segitunya kali" | nah, bila hanya ucapan saja, mengapa dibela-belain? Dan perlu diketahui, bahwa dengan ikut mengucapkan "selamat natal", maka berarti kita telah meridhoi amalan mereka, padahal agama Islam mengajarkan kita untuk mendakwahi mereka kejalan yang benar.
Aturan Islam itu disusun atas 4 (empat) landasan, yaitu : Al-Qur'an, As-Sunnah, ijma sahabat dan qiyas. Aturan Islam bukan karena katanya atau kayaknya, namun harus berdasarkan dalil yang kuat.
Bahkan ulama-ulama besar telah menfatwakan tentang hal ini, bahwa haramnya terlibat dalam perayaan agama lain
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah mengatakan: “Sebagaimana mereka (kaum Musyrik) tidak diperbolehkan menampakkan syiar-syiar mereka, maka tidak diperbolehkan pula bagi kaum Muslim menyetujui dan membantu mereka melakukan syiar itu serta hadir bersama mereka. Demikian menurut kesepakatan ahli ilmu.” (Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Ahkâm Ahl al-Dzimmah, juz 1. hal. 235).
Perayaan natal sangat jelas sekali bagian dari syiar mereka, maka mengucap selamat, beratribut natal, menghadiri acaranya, Semuanya itu diharamkan untuk dilakukan.
Abdul Malik bin Habib, salah seorang ulama Malikiyyah menyatakan: “Mereka tidak dibantu sedikit pun pada perayaan hari mereka. Sebab, tindakan merupakan penghormatan terhadap kemusyrikan mreka dan membantu kekufuran mereka. Dan seharusnya para penguasa melarang kaum Muslim melakukan perbuatan tersebut. Ini adalah pendapat Imam Malik dan lainnya. Dan aku tidak mengetahui perselisihan tentang hal itu” (Ibnu Taimiyyah, Majmu’ al-Fatâwâ, juz 6 hal 110).
Abu al-Qasim al-Thabari mengatakan: “Tidak diperbolehkan bagi kaum Muslim menghadiri hari raya mereka karena mereka berada dalam kemungkaran dan kedustaan (zawr). Apabila ahli ma’ruf bercampur dengan ahli munkar, tanpa mengingkari mereka, maka ahli ma’ruf itu sebagaimana halnya orang yang meridhai dan terpengaruh dengan kemunkaran tersebut. Maka kita takut akan turunnya murka Allah atas jama’ah mereka, yang meliputi secara umum. Kita berlindung kepada Allah dari murka-Nya" (Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Ahkâm Ahl al-Dzimmah, juz 1. hal. 235).
Imam al-Amidi dan Qadli Abu Bakar al-Khalal menyatakan: ”Kaum Mmuslim dilarang keluar untuk menyaksikan hari raya orang-orang kafir dan musyrik.” (Ibnu Tamiyyah, Iqtidhâ’ al-Shirâth al-Mustaqîm, hal.201).
Jelas semua pendapat diatas bukanlah pendapat yang berdasar dari hawa nafsu semata, dan bagi kita yang mencari kebenaran, harusnya itu semua cukup sebagai keterangan yang jelas.
Juga jelas sekali dalam semua pendapat itu, bahwa niat bukan jadi penilai, apapun niatnya, terlibat dalam hari raya agama lain itu hukumnya adalah haram.
Apabila ummat kristiani mengucap selamat hari raya Idhul Fitri dan Idhul Adha, maka sesungguhnya mereka memang tidak punya aturan dalam agama mereka yang mengatur dalam perkara ini, berbeda dengan kita Ummat Islam yang sudah lengkap semuanya dan merupakan agama yang haq.
Jangan sampai dengan alasan toleransi beragama, kita justru membahayakan aqidah agama kita sendiri, jangan sampai dengan alasan toleransi, malah menjatuhkan kita dalam keharaman.
"Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, jika mengiringi jenazah, tidak duduk hingga jenazah dimasukan ke liang lahat. Seorang ulama Yahudi mendekat dan berkata; 'Beginilah yang kami lakukan wahai Muhammad'." Ubadah berkata; "Lantas Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam duduk dan bersabda: "Selisihilah mereka!" (HR Tirmidzi).
Dalam banyak hadits lain, kita mendapatkan bahwa Rasulullah selalu menyelisihi Yahudi dan Nasrani, baik pakaian, ibadah, juga hari raya. Maka beratribut natal, mengucap selamat natal, itu termasuk penyerupaan yang jelas, dan seharusnya kaum Muslim meninggalkannya.
Renungkanlah wahai kaum muslimin sebuah hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam: "Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka" (HR Ahmad, Abu Dawud, Thabrani).

______________________

Baca juga: Mp3 Murottal Al-Qur'an Qori Cilik Yusuf Kalo atau Murottal Terbaik Syaikh Mishary Rashid Al-Afasy

0 Response to " Toleransi Beragama Bukan Dengan Mengikuti Ritual Agama Lain"

Post a Comment