Persiapan Sebelum Memasuki Bulan Suci Ramadhan

 Malam Ramadhan


Alhamdulillah,  merupakan sebuah kata yang agung yang sangat populer diucapkan oleh mulut seorang hamba yang beriman manakala ia mendapati kenikmatan yang menimpati dirinya. Khususnya di bulan Sya’ban ini, kita masih diberikan oleh-Nya salah satu nikmat dari sekian banyaknya nikmat-Nya yaitu kenikmatan umur yang panjang sehingga kita sampai kepada bulan ini. Bagaimana tidak, bukankah kita sekarang berada diambang bulan yang penuh berkah, ampunan dan pahala, artinya kita hampir saja memasuki pintunya yakni bulan suci Ramadhan. Semoga kita menjadi golongan yang terbaik dalam menyambutnya, yaitu golongan yang senantiasa merindukannya, lalu kemudian bersegera menyingsingkan lengan baju untuk melaksanakan berbagai amalan ibadah dengan ikhlas karena Allah subhanahuwata’ala demi sebuah prestasi yang agung yang tiada bandingnya yakni muttaqin, menjadi orang yang bertaqwa.

Teman-teman yang semoga Allah Subhaanahuwata’la memuliakan kita
Di kesempatan ini, ana ingin berbagi sedikit pengetahuan Islam kepada sobat-sobat sekalian. Semoga dakwah kecil ini menjadi amalan yang berbuah pahala yang sangat dibutuhkan di akhirat kelak. Go down à

Persiapan sebelum memasuki bulan Ramadhan

Teman-teman yang semoga Allah merahmati kita
Bulan sya’ban ini adalah bulan dimana Rasulullah sallaahu ‘alaihi wasallam mengencangkan ikat pinggangnya, meninggalkan sebagian besar urusan dunianya, untuk apa??? Tidak lain adalah bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah Subhaanahuwata’la. Beliau senantiasa memperbanyak amalan ibadah terutama puasa sunnah. Sebagaimana dalam hadits Aisyah radhiallaahu Anha, beliau berkata, “Rasulullah sallaahu ‘alaihi wasallam ber puasa, sampai-sampai
kami mengiranya tidak pernah meninggalkannya”. Demikian dalam riwayat Bukhari dan Muslim.
Dalam riwayat lain dikatakan bahwa: ”Beliau melakukan puasa sunnah bulan Sya’ban sebulan penuh, beliau sambung bulan itu dengan Ramadhan”. (Hadits shahih diriwayatkan oleh para ulama’ hadits, lihat Riyadhush-Shalihin, Fathul Bari, Sunan At-Tirmidzi dan lain-lain).

Demikian persiapan nabi dalam menghadapi bulan Ramadhan. nah mungkin sedikit berbeda atau mungkin juga banyak perbedaannya dengan kita dalam menyambut bulan Ramadhan. biasanya nih, sebagian diantara kita atau saudara-saudara kita memanfaatkan bulan “sya’ban” ini dengan memperbanyak melakukan perkara yang tidak bernilai ibadah. Mereka juga merasa rindu dan senang mengahadapi bulan puasa, namun kesenangan itu hakikatnya tidak diperesembahkan untuk bulan puasa. Sudah menjadi tradisi, mereka mengisi beberapa hari sebelum bulan Ramadhan dengan mengunjungi tempat-tempat peristirahatan, rekreasi, wisata dan tempat hiburan lainnya dimana tempat tersebut tidak bisa dipungkiri terjadinya ikhtilat (campur baur laki-laki perempuan) yang sudah jelas keharamannya dalam islam. Bahkan tidak sedikit diantara mereka membanjiri tempat-tempat jualan makanan (kuliner). Seakan-akan bulan puasa akan datang untuk menzalimi (bc: menyiksa) mereka dengan berpuasa (tidak makan dari pagi sampai malam) sehingga mereka tidak membuang kesempatan bulan sya’ban ini untuk mengunjungi tempat-tempat itu. Ana pernah mendengar seseorang berucap – apakah ia sedang membuat candaan atau serius – “kita akan menghadapi bulan puasa, 1 bulan gak makan, jadi hari ini kita makan banyak-banyak”.

Kita pahami bahwa, bulan Ramadhan adalah bulan tarbiyah (pendidikan). Sederhananya seperti ini, kalau pada bulan-bulan sebelumnya nafsu makan dan minum kita dijamin halal 24 jam, maka di bulan Ramadhan kita dididik untuk menekan hawa nafsu termasuk nafsu makan dan minum yaitu tidak makan dan minum dari pagi sampai menjelang maghrib. Untuk apa, yang jelasnya bukan untuk menyiksa, tidak lain adalah Allah ‘Azza wajal menguji keimanan kita. Mana diantara hamba-Nya yang takut (bertaqwa atas perintah-Nya) kepada Allah dan mana yang tidak. Namun sedikit mengerutkan kening, di berbagai media khususnya televisi. Pada bulan Ramadhan hampir di media ini dominan menampilkan acara-acara yang berbau kuliner sementara yang memirsa atau yang duduk di depan televisi dalam keadaan berpuasa.

Teman-teman yang semoga Allah Subhaanahuwata’la merahmati kita
Persiapan selanjutnya adalah ilmu, tentunya ilmu tentang amalan-amalan di bulan Ramadhan terutama ibadah puasa.

Syarat sahnya suatu amalan agar diterima oleh Allah Subhaanahuwata’la ada dua. Pertama, ikhlas karena Allah. Ibadah yang kita lakukan haruslah betul-betul karena semata-mata melaksanakan perintah Allah dan mengharapkan pahalanya seperti ibadah puasa. Tidaklah kita berpuasa karena ingin dilihat, atau karena orang di sekitar kita berpuasa. Yang kedua adalah Ittiba’ As-sunnah. Artinya kita wajib mengikuti sunnah Nabi dalam hal melaksanakan suatu amalan atau ibadah termasuk ibadah puasa. Nah dalam perkara ini sangat dibutuhkan yang namanya ilmu. Yaitu ilmu tentang ibadah puasa. Ibadah puasa adalah ibadah yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, kita harus mempelajari ilmunya. Karena tidaklah kita melakukan suatu amalan ibadah melainkan harus ada ilmunya (contohnya) dari Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam. Ini berdasarkan sabda nabi dari Aisyah Radialloohu Anha, beliau berkata Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “berangsiapa yang melakukan suatu amalan tanpa ada perintahnya dari kami maka ia tertolak”. Nah agar ibadah puasa kita sesuai dengan perintah dan contoh dari nabi kita harus membaca hadits-hadits Beliau Sallallahu Alaihi Wasallam yang termaktub dalam kitab-kitab ulama Ahlusunnah. Dan ini mudah didapatkan. Minimal kita jaga harus mempelajari sebab-sebab yang membatalkan puasa atau yang bisa membatalkan pahalanya. Karena ada juga orang yang berpuasa, mereka hanya menahan lapar dan dahaga dari pagi sampai menjelang maghrib tapi pahalanya tidak mereka dapatkan. Sabda Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, ““Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thobroniy dalam Al Kabir dan sanadnya tidak mengapa. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1084 mengatakan bahwa hadits ini shohih ligoirihi -yaitu shohih dilihat dari jalur lainnya)

Ketahuilah juga bahwa ada salah satu perkataan dan perbuatan keji yang sangat mempengaruhi ibadah puasa kita, sabda Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta, maka tidak ada kebutuhan bagi Allah dalam diri orang yang meninggalkan makanan dan minumannya. (puasa)” (HR. Bukhari dan Abud Dawud)

Bukan hanya dusta yang bisa mempengaruhi amalan puasa kita, namun secara umum semua perbuatan dan perkataan keji bisa membatalkan ibadah puasa kita. Perhatikan sabda Nabi, “Puasa itu bukan sekedar menahan makan dan minum, tetapi puasa itu adalah meninggalkan perbuatan sia-sia dan perkataan keji.” (HR. Ibnu Hibban)

Nah sebagai kesimpulan, bulan Ramadhan bulan dimana didalamnya disediakan berlipat ganda pahala. Maka jangan sia-siakan kesempatan itu untuk melaksanakan berbagai macam amalan. Jangan mengisinya dengan kegiatan atau pekerjaan yang sia-sia yang membuat pahala puasa itu hampa alias tidak ada yang didapatkan pahalanya. Misalnya, bergosip, jalan-jalan, main game, nonton sinetron, main kartu, banyak tidur, mengisi tempat-tempat hiburan, mengunjungi mall, dll. Katanya mereka lakukan semua itu untuk menunggu waktu berbuka, supaya tidak terasa waktu berbuka telah tiba. Kita berlindung kepada Allah dari perkataan semacam ini. Sebaliknya isilah waktu-waktu itu dgn amalan-amalan yang disunnahkan atau dibolehkan, misalnya memperbanyak membaca Al-Qur’an, mempalajari Al-Qur’an, bersedekah, membaca buku agama, mendengarkan kaset ceramah, saling menasehati, menuntut ilmu agama, berzikir, dan sebagainya.

Demikian catatan kecil ini ana tulis. semoga kita bisa mengambil manfaatnya. Ana hanya orang yang punya sedikit ilmu untuk disampaikan. Oleh karena itu, tidak jamin catatan ini sempurna dan tidak memiliki cacat. Mungkin masih ada yang perlu diperbaiki atau ditambahkan. Untuk itu, sangat diharapkan kritik dan saran dari pembaca agar bisa lebih baik catatan untuk kedepannya. Selamat menyongsong bulan suci Ramadhan. Waallahu a'lam.

Baca juga: Ringkasan Pengetahuan tentang Puasa Ramadhan

0 Response to "Persiapan Sebelum Memasuki Bulan Suci Ramadhan"

Post a Comment