Bertahan Hidup dalam Kekurangan

Anak Penjual Koran



Oleh : Rahayu Ayhoe Hestiningsih

Apa yang kamu fikirkan ketika ada sebuah kalimat bertuliskan "Bertahan Hidup" ??? 
Sebuah langkah perjuangan yang bukan sebuah hal yang mudah, proses bertahan adalah sebuah proses yang membutuhkan kesungguhan dan keyakinan yang kuat. 

Beberapa jam yang lalu, saat saya baru pulang dari jalan, tibalah saya di simpang lampu merah di salah satu jalan besar di Kota Samarinda. Pada saat itu jam sudah menunjukkan pukul 20.30, kebetulan saat itu lampu berwarna merah yang artinya semua kendaraan harus berhenti sejenak. 

Ada seseorang yang menarik perhatian saya, seorang anak kecil dengan 2 koran di tangannya, tampak jelas sekali dia adalah penjual koran. Ia mendekati saya dan berkata "dua ribu saja bu, korannya", saya meraba isi kantong jaket, ada selembar uang pecahan 5000, saya berikan kepada anak itu, tetapi yang sangat disayangkan saya melakukan kesalahan, saya tidak mengambil koran itu, saya tersadar saat beberapa menit kemudian. Saya tidak bermaksud menganggap anak itu pengemis, yang terbayang di kepala saya setiap melihat anak kecil di simpang lampu merah jalan raya adalah seperti adik saya yang paling kecil di rumah. Saya kasihan padanya dan membayangkan seandainya ia adik saya pasti miris sekali. 

Saya selalu sedih bahkan sampai mengeluarkan air mata, betapa gigih nya mereka berjuang bertahan hidup. Anak seumuran mereka mungkin seharusnya ada di dalam rumah, sedang belajar dan membaca buku tetapi tidak dengan mereka. Berkeliaran di jalan menjajakan koran, tidak kenal waktu. Bermain mungkin jadi hal yang asing bagi mereka. 

Betapa beruntungnya saya dan saudara-saudara saya tidak pernah merasakan hal seperti yang dirasakan anak itu. Saya beruntung memiliki orang tua yang bisa membiayai kehidupan kami. Allah maha adil tidak akan memberikan cobaan kepada hamba Nya melebihi kemampuan. Mereka yang dicoba dianggap lebih mampu daripada saya. 

Teringat kembali kejadian tadi pagi saat penggalangan dana untuk Rohingya, siapapun mereka, bangsa apapun mereka adalah tetap makhluk yang memiliki hak hidup yang sama dengan makhluk yang lain. 

Saya pribadi merasa bangga kepada masyarakat Samarinda yang tua yang muda, semua turut membantu dan respon positif atas apa yang saya dan kawan-kawan lakukan dalam kegiatan ini. Semoga atas apa yang dilakukan bisa menjadi manfaat buat mereka sebagai penyambung hidup mereka. 

Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia lain. #Muhasabah diri#

0 Response to "Bertahan Hidup dalam Kekurangan"

Post a Comment