Menyiasati Anak yang Malas Belajar Metematika

stop malas


Oleh : Abu Fayzim Madat

Menyiasati Anak yang "Malas" Belajar Metematika.

Beberapa malam yang lalu, saya mengajar Matematika untuk Fayza, anak saya yang hendak masuk SD. Secara tiba-tiba doi mengatakan ke saya 'Kak Aza capek bi, ini payah kali kok'. Saya terdiam, sambil berpikir keras bagaimana caranya menyiasati ini?. Dengan bantuan Multiple Intelegence Research, saya ketahui kalau Fayza punya kecenderungan di linguistic, yang salah satu cirinya antusias dengan cerita. Dia juga, cenderung ke visual spatial, suka berekspirimen dengan berbagai model dandanan dan asesoris. Doi juga punya kecenderungan di kinestetik, pecicilan setengah mati, lompat sana-sini. Dan interpersonal, yang sinyal adalah lihai dan suka berteman.

Nah, dari kecenderungan itu, strategi bermula, saya coba masuk dari sana, 'kak mau dengar cerita abi terbaru?'. Langsung doi bersemangat, 'apa tu bi?', 'Kakak suka kep dan bross kan?'. 'suka bi'. 'Coba bayangin, nanti kalau kakak udah besar, kakak beli kep banyak sekali kep dan bros sama Nayya (teman di TK-nya). euuu ni kakak beli Kep 49 dan Bross 43 biji, ayoo sekarang berapa jumlahnya?' doi diam, berpikir, bingung, saya melanjutkan. 'Trus kakak manggil Oom becak, untuk membantu kakak bawa pulang Kep sama Bross, pas sampek rumah, kakak hitung jumlahnya Kep dan Bross ada 82 biji. Betul nggak tu jumlahnya', tanya saya. Lagi-lagi doi diem, berpikir dan merenung.

Agar doi tambah penasaran saya melanjutkan, 'Kalau abi hitung ni yaa, Kep dan Bross kakak ada yang hilang tuh'. 'hah kok bisa bi', 'waduh mana abi tahu'. 'nah berapa yang kakak beli?, berapa yang hilang?, sambung saya. Doi mulai penasaran! Kesempatan emas untuk saya. 'Nah berarti kakak mesti pinter ngitung-ngitung nih kakak, kalau kakak pinter matematika, kakak bisa jumlahin dan ngurangin, kakak tahu berapa yang hilang. Kakak mau abi ajarin matematika?, tenang aja, gampang kok, pasti kakak bisa, kakak itu pinter kok. Surat pendek aja udah 18 Kakak hafal, masak matematika yang  gampang kayak gini kakak nggak bisa'. "iya kan?, saya melanjutkan?'.  'Ya bi'. Masuk perangkap nih, hehehe.  ' tapi kakak dengerinn abi ngajarin ya'. 'iya bi'. Kemudian dia nuntut. 'Tapi nanti kalau udah bisa kita maen gelik-gelik-an ya', gantian dia minta imbalan. (gelik-gelik-an adalah ritual kami nyaris setiap malam. Maklum dua anak saya pecicilan setengah mati. Selain bercerita sebelum tidur , main gelik-gelian adalah ritual malam kami. 'beres tu'. Janji saya. Kami pun belajar Matematika, hasilnya?. Si Kakak ternyata bisa penjumlahan 'tingkat lanjutan'. Alhamdulillah...

Teman-teman, kisah di atas itu nyata, bukan imajinasi saya. Intinya begini, sebelum mengajari, penting sekali untuk tahu kecenderungan anak kita. Agar kita tahu cara belajar seperti apa yang cocok. Karena setiap anak punya kecenderungan yang berbeda, tidak semua anak itu memiliki jenis dan tingkatannya tentang kecenderungan yang sama tentang  kecerdasannya. Oleh karenanya penting sekali, untuk mengetahui itu. Dalam konsep Multiple Intelegence alias kecerdasan majemuk, cara untuk mengetahui jenis kecerdasan disebut dengan Multiple Intelegence Test, atau Multiple Intelegence Research. So sudahkan teman-teman meneliti kecenderungan anak?. Setelah tahu hasilnya, baru kemudian kita mencari strategi yang pas untuk mengajari anak.  Jadi tidak semua strategi cocok untuk semua anak, pada semua waktu.

Untuk kasus anak saya, yang punya kecenderungan di Linguistik, Visual Spatial, Kinestetik dan Interpersonal, saya mencoba meramunya. Saat rasa malas itu timbul, saya gunakan cerita (strategi linguistik) untuk memancing perhatian dan minatnya, kemudian saya pilih isi cerita, dengan Kep dan Brosss, yang sering dia gunakan untuk berdandan dan bereksperimen (dekat dengan Visual-Spatial), saya pilih tokoh Nayya, temannya ( anak dengan kecenderungan Interpersonal suka berteman), dan saya menyetujui main gelik-gelik-an sebagai reward, karena anak kinestetik suka bergerak. Juga jangan lupa pujian. Pujian ini cara ampuh untuk memenangkan perasaan. Jangankan anak, bukan teman juga suka pujian pasangan, yaa meski wajah anda stabil, saya yakin hati anda 'kebat kebit' saat mendapat pujian. So kalau teman-teman yang sudah dewasa saja, mendapat ransangan positif apalagi anak.

Jadi kesimpulannya, mari mengenali anak, kemudian belajar cara mengajar dan menerapkan cara belajar yang pas untuk mereka, tidak ada anak yang bodoh, karena Allah tidak mungkin menciptakan sesuatu apalagi seseorang dengan sia-sia. Sekali lagi,  mari belajar!

0 Response to "Menyiasati Anak yang Malas Belajar Metematika"

Post a Comment