Benarkah Bulu Babi bukan Najis?

Hukum Bulu Babi

Ikhwan Sunnah | Bismillaah - Alhamdulillaah wash-shalaatu was-salaamu 'ala Rasuulillaahi ammaa ba'du. Saudara/i sekalian! Pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang apakah bulu babi itu termasuk najis atau tidak, mari kita simak pembahasannya berikut ini.

Para ulama berselisih pendapat dalam permasalahan ini, namun jumhur ulama berpendapat bahwa bulu babi termasuk najis. Diantara ulama yang berpendapat najisnya bulu babi adalah ulama hanafiyah, syafi'iyah dan hanabilah. Mereka berdalil dengan surat al-an’aam ayat 145:

قُلْ لا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلا عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ 


Artinya: Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaKu, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi - karena Sesungguhnya semua itu kotor - atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam Keadaan terpaksa, sedang Dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (Q.S. Al-An'aam : 145)

Adapun ulama Malikiyah berpendapat bahwasanya bulu babi tidak termasuk najis apabila dipotong (tidak dicabut). Disebabkan karena bulu babi merupakan bagian tubuh yang tidak terdapat kehidupan sehingga jelas berbeda dengan daging babi.

Kemudian mari kita juga melihat pendapat Syaikhul Islam ibnu Taimiyah, beliau menyatakan bahwa bulu babi bukanlah najis. Berikut ini perkataan beliau:

والقول الراجح هو : طهارة الشعور كلها : الكلب والخنزير ، وغيرهما بخلاف الريق ، وعلى هذا فإذا كان شعر الكلب رطبا ، وأصاب ثوب الإنسان فلا شيء عليه ، كما هو مذهب جمهور الفقهاء أبي حنيفة ، ومالك ، وأحمد في إحدى الروايتين عنه ، وذلك لأن الأصل في الأعيان الطهارة فلا يجوز تنجيس شيء ولا تحريمه إلا بدليل


“Dan pendapat terkuat adalah: setiap bulu itu adalah suci termasuk juga bulu anjing, bulu babi dan lain sebagainya, berbeda hukumnya dengan air liur. Dan oleh karena itu, apabila ada bulu anjing yang basah dan terkena baju manusia, maka tidak ada tuntutan apa-apa terhadapnya. Sebagaimana hal tersebut adalah pendapat kebanyakan ulama dalam madzhab Abu Hanifah, Malik dan Ahmad pada salah satu dari dua pendapat beliau. Dan yang demikian tersebut dikarenakan hukum asal sesuatu itu ialah suci. Maka tidak boleh mengatakan sesuatu itu adalah najis atau haram kecuali ada dalilnya” (Majmu fatawa 21/617).

Saudara/i yang dirahmati oleh Allah.
Dalam permasalahan ini kita perlu mempertanyakan beberapa poin berikut ini:

Yang pertama: Apakah ada dalil yang tegas mengatakan bahwa bulu babi adalah najis?
Sepanjang pengetahuan kami, tidak ada satu pun dalil yang tegas menyatakan hal tersebut.

Yang kedua: Apakah hewan yang najis dangingnya maka bulunya juga ikut dikatakan najis?
Contohnya bangkai adalah najis. Akan tetapi para ulama menyatakan bahwa bulu dan tulang dari bangkai tersebut tidaklah dikatakan najis karena bulu dan tulang tidak dialiri darah yang menjadi sebab akan kenajisannya. Contoh lainnya seperti anjing, kebanyakan ulama menyebutkan bahwa bulu anjing adalah suci (sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Syaikhul Islam ibnu Taimiyah pada perkataannya diatas).

Maka kesimpulannya:

Pendapat yang dikemukakan oleh Syaikhul Islam ibnu Taimiyah sangatlah kuat menurut pandangan kami. Namun apabila ingin lebih berhati-hati, maka sebaiknya dihindari saja, termasuk juga kuas dari bulu babi. Sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Sholih Al-Munajjid, tidak masalah memakai kuas dari bulu babi, bahkan dalam keadaan kuas tersebut basah. Namun, tidak menggunakannya maka itu lebih baik agar dapat keluar dari perselisihan pendapat para ulama. Sikap demikianlah yang lebih baik kita terapkan.

Wallaahu ta'aala wa a'lam

0 Response to "Benarkah Bulu Babi bukan Najis?"

Post a Comment