Biografi Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily - Ulama Madinah

 Biografi Syeikh Sulaiman Ar-Ruhaili


Ikhwan Sunnah | Biografi Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili (Kelahiran bulan Rajab tahun 1386 Hijriah, Ulama Madinah, Guru pasca sarjana di Universitas Islam Madinah, Guru besar untuk fatwa di Jami'ah Islamiyah, salah satu pengajar di masjid nabawi takkala musim haji tiba).

Berikut ini kami tuliskan tentang biografi Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily dan kisah perjuangan beliau dalam menuntut ilmu syar'i. Tulisan berikut ini merupakan terjemahan dari biografi beliau dalam bahasa Arab yang ada di Fanspage Facebook beliau. Untuk melihat teks aslinya silakan klik disini.

Berkata Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily:

Saya Sulaiman bin Salimullah bin Rajaullah bin Buthi Ar-Ruhaily. Saya dilahirkan, dibesarkan dan melangsungkan kehidupan di Madinah dan saya memohon kepada Allah agar diwafatkan di Madinah.

Awal saya menuntut ilmu syar'i (sebelum masuk sekolah formal) adalah di Masjid An-Nabawi shallallaahu 'alaihi wa sallam, saya menghadiri beberapa majelis ilmu Syaikh Al-Amiin rahimahullaah dan ketika itu umur saya belum mencapai enam tahun, dan saya juga menghadiri beberapa majelis ilmu Syaikh 'Umar Fallaatah rahimahullah dan majelis ilmu Syaikh Abu Bakr Al-Jazaairy rahimahullaah dan saya sangat sering duduk di majelis tersebut, dan saya juga menghadiri beberapa majelis ilmu Syaikh Al-Albaany rahimahullaah ketika beliau berada di Madinah, dan saya juga menghadiri majelis ilmu Syaikh bin Baaz rahimahullaah di Riyaadh dan Madinah, dan demikian pula saya juga menghadiri beberapa majelis ilmu Syaikh Ibnu 'Utsaimiin rahimahullaah baik kajian yang bersifat umum maupun kajian khusus yang diselenggarakan di Madinah.



Dan Hal ini tidak terlepas dari peran ayah ku (semoga Allah menjaga beliau dan menjadikan akhir hayat kita dan ayah ku dalam kebaikan) yang mencintai majelis-majelis para ulama semenjak ia mengenal Madinah, beliau telah menghadiri majelis-majelis para Ulama seperti Syaikh Al-Amiin dan Syaikh Al-Ifriiqy bahkan Syaikh 'Umar Fallaatah rahimahullaah pernah mengatakan kepada ku "Sengguhnya Ayah mu adalah teman ku, dulu kami dan beberapa teman lainnya menuntut ilmu di Halaqah Syaikh Al-Ifriiqy", beliau juga menghadiri majelis Syaikh bin Baaz rahimahullaah, dan beliau pernah mengatakan pada ku bahwa ia tidak suka duduk sendirian karena beliau suka bergaul dengan masyarakat, dan beliaulah yang mengajakku ke majelis-majelis ilmu dan ketika itu umurku kurang dari enam tahun.

Kemudian ketika berumur enam tahun saya bergabung dengan suatu halaqah di Masjid terdekat untuk menghafal Al-Qur'an yang dibimbing oleh salah satu Syaikh dari suku kami, beliau bernama 'Atiiq bin Jaabir Ar-Ruhaily, lembaga pendidikan tersebut dibawah pengawasan Syaikh Raasyid bin 'Aatiq Ar-Ruhaily (semoga Allah merahmati mereka semua), dan saya telah menyelesaikan hafalan Al-Qur'an sebelum umur saya mencapai sepuluh tahun Alhamdulillaah.

Kemudian saya belajar di sekolah formal, setelah saya menyelesaikan jenjang ibtidaiyyah maka ayah ku meminta aku untuk bergabung dengan Jami'ah Islamiyah pada jenjang sekolah menengah pertama, namun Jami'ah ketika itu tidak menerima siswa dari Saudi Arabia kecuali bagi orang yang punya keterbatasan dan bagi orang yang punya keistimewaan atau kedudukan khusus, sehingga ayah ku menentang hal itu agar aku dapat bergabung dengan Jami'ah tersebut, sehingga kepala sekolah ibtidaiyyah membuat perjanjian bahwa jika saya tidak diterima di Jami'ah tersebut maka saya tidak diterima di sekolah yang lain (untuk mengintimidasi) sebab itu saya menjadi cerdas dalam pelajaran ilmiyah, dan ayah ku mendorong saya untuk belajar di Jami'ah Islmaiyah tersebut. Dan ayah ku berkata kepada mereka "Rezeki di tangan Allah, saya ingin anak ku belajar ilmu syar'i" dan saya pun diterima pada sekolah menengah pertama di jami'ah islamiyah. Dan saya belajar dengan para masyaikh yang sangat hebat dan kebanyakan dari mereka berasal dari Al-Azhar, mereka kuat dalam ilmu alat. Saya masih mempunyai beberapa buku-buku mereka sampai sekarang.

Kemudian saya melanjutkan pendidikan di sekolah menengah atas pada Jami'ah dan permasalahannya sama seperti yang sebelumnya.

Kemudian setelah saya tamat dari sekolah menengah atas maka saya melanjutkan ke perkuliahan Universitas Islam Madinah dan saya belajar pada fakultas syari'ah, ada beberapa teman-teman ku yang masih ku ingat sampai sekarang yaitu Syaikh Yaasiin Mahmuud rahimahullah dulu kami sering bergantian juara satu dan dua, ditahun pertama saya juara satu dan beliau juara dua, ditahun kedua beliau juara satu dan saya juara dua, kemudian ditahun ketiga dan keempat saya juara satu. Juga ada teman ku Syaikh Tarhiib Ad-Duusary beliau lebih tua dari ku karena beliau sebelumnya belajar terlebih dahulu di fakultas lainnya dan kemudian barulah beliau belajar di fakultas syari'ah, dan masih ada sejumlah teman-teman ku lainnya. Dan ketika itu ada beberapa masyaikh pada fakultas syari'ah yang saya belajar para mereka diantaranya; Syaikh Abdussalaam bin Saalim As-Sahiimy, saya belajar dengan beliau selama dua tahun, kemudian juga ada Syaikh Shaalih As-Sahiimy dan Syaikh 'Aly Al-Hudzaify dan sejumlah masyaikh lainnya.

Setelah saya tamat dari fakultas syari'ah, saya melanjutkan kuliah pasca sarjana dengan mengambil program studi Ushuul Al-Fiqh, seseorang pernah mengatakan kepada ku "jika kamu tidak diterima di progaram studi Ushul Al-Fiqh maka kamu tidak akan diterima di program studi yang lain". Namun atas nikmat yang diberikan Allah kepada ku, banyak para masyaikh yang mengarahkan saya ke berbagai macam program studi yang mereka inginkan. Ada beberapa masyaikh yang mengatakan kepada ku "Pilihlah program studi 'Aqiidah! kami ingin kamu pada program studi 'Aqiidah", kemudian ada juga Syaikh Faihaan Al-Mathiiry beliau berkata "Pilihlah program studi Fiqh! kami tidak mengizinkan kamu kecuali pada program studi Fiqh". Pada akhirnya atas kehendak Allah saya memilih program studi Al-Ushuul. Dan saya pun belajar tentang Al-Ushuul secara berulang-ulang dan saya belajar juga tentang sunnah dan manhaj. Kemudian pada tahun kedua saya diminta untuk mengajar pada fakultas dan Alhamdulillah saya telah dapat mengajar Al-Qawaa'id Al-Fiqhiyyah kepada para mahasiswa fakultas syari'ah, dan setelah beberapa waktu berlalu, saya berpindah untuk mengajar ke jenjang pasca sarjana Universitas Islam Madinah sampai sekarang. Segala puji dan kekuatan hanyalah milik Allah.

Allah 'azza wa jalla telah memberiku nikmat yang sangat besar, yaitu menjadi seorang penuntut ilmu dengan para masyaaikh yang mereka mengarahkan kami kepada manhaj as-salaf, dan mengajari kami manhaj ini yaitu manhaj orang-orang shalih yang senantiasa berilmu dan beramal. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang berada diatas metode as-salaf as-shaalih ridhwaanallaah 'alaihim, dan amal shalih yang benar adalah amal salih yang berada diatas metode pemahaman mereka, karena merekalah generasi yang mengambil langsung ilmu dari Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam dan mereka senantiasa istiqomah dengan apa yang telah diajarkan-Nya. Saya memohon kepada Allah agar kita dan saudara-saudara ku sekalian ditetapkan diatas ajaran yang benar ini hingga akhir hayat, meskipun terkadang banyak orang yang tidak menyukainya.

Adapun status pernikahan, saya telah menikah karena tauhid dan rasa takut kepada Allah, menikah adalah suatu yang terpuji dalam syari'at, demikian pula bertauhid dan memiliki rasa takut kepada Allah adalah sesuatu yang terpuji dalam syari'at.

Saya telah mempunyai anak tujuh orang, lima diantaranya adalah laki-laki.
___________


Demikianlah biografi Syaikh Sulaiman bin Salimullah bin Rajaullah bin Buthi Ar-Ruhaily semoga Allah senantiasa menjaga beliau dan memberkati ilmu beliau.

Catatan: Jika ada terjemahan yang kurang tepat maka kami mohon ma'af.

Kata kunci: Biografi Ulama Madinah, Biografi Sulaiman Ar Ruhaili, Biografi Sulaiman Ar Ruhaily, Biografi Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili, Biografi Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily

1 Response to "Biografi Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily - Ulama Madinah"