Cara dan Hukum Qadha Shalat karena Malas, Lupa dan Tertidur

Mengqadha Shalat - Pembahasan berikut ini berisikan tentang masalah:
  • Tata cara qadha shalat yang dikarenakan / disebabkan lupa atau tertidur.
  • Hukum qadha shalat fardhu yang tertinggal bertahun-tahun (telah berlalu) dikarenakan malas.
  • Status kafir bagi orang yang meninggalkan shalat karena sengaja

Silakan simak penjelasan selengkapnya berikut ini.

Hukum qodho sholat dengan sengaja


Cara Mengqadha Shalat yang Ditinggalkan

Pertanyaan:
Bagaimana seorang muslim mengqadha (mengganti) shalat yang ditinggalkannya. Apabila shalat yang ia tinggalkan shalat jahriyah, apakah ia wajib mengqadhanya dengan cara jahr pula?

Jawaban:
Barangsiapa meninggalkan shalat wajib, ia harus mengqadha shalat itu seperti saat ia mengerjakannya. Apabila shalatnya jahriyah (yang bacaannya dikeraskan –penj), maka diqadha dengan cara jahr pula, seperti shalat Subuh. Dan jika shalatnya sirriyah (yang bacaannya dilirihkan -penj), maka diqadha dengan cara sirr pula, seperti shalat Dzuhur dan Ashar. Hal ini apabila shalat yang ditinggalkannya karena lupa, tertidur atau karena kondisi sakit yang membuatnya merasa tidak mampu untuk mengerjakannya, yang akhirnya ditunda untuk diqadha ketika sudah sehat. Adapun jika meninggalkannya karena bermalas-malasan atau meremehkan, maka status ia dihukumi kafir masih diperselisihkan oleh para ulama. Pendapat yang benar ia dihukumi kafir, tidak ada kewajiban mengqadha, tapi wajib bertaubat darinya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam:

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ

 “Sesungguhnya pembatas antara seorang laki-laki (muslim) dengan kesyirikan dan kekufuran ialah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim nomor 82)

Juga sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam:

َالعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَر

Perjanjian yang memisahkan antara kami dan mereka (orang-orang kafir adalah shalat, maka barangsiapa yang meninggalkannya berarti ia telah kafir.(HR. at-Tirmidzi nomor 2621, hadits shahih)

Adapun jika meninggalkannya karena mengingkari kewajibannya, maka berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama ia dihukumi kafir. Kita memohon kepada Allah subhaanahu wata’aala keselamatan dan kesehatan. Intinya, jika meninggalkannya karena disengaja dan mengingkari kewajibannya, maka ia telah kafir secara ijma’. Adapun jika meninggalkannya karena meremehkan dan bermalas-malasan, maka hal ini menyerupai sifat orang-orang munafik, dan ini adalah kekufuran yang besar menurut pendapat yang lebih shahih dari dua pendapat ulama, wajib baginya untuk bertaubat kepada Allah subhaanahu wata’aala, taubat nasuha yang sebenar-benarnya, yang berisi rasa penyesalan atas apa yang telah dilakukan, berusaha untuk meninggalkannya, dan bertekad tidak mengulanginya. Sehingga ia cukup bertaubat dan tidak ada qadha baginya. 

(Majmu’ Fatawa Ibnu Baaz, 11/114-116)

Meninggalkan Shalat Selama Bertahun-tahun

Pertanyaan:
Apakah mengqadha shalat wajib yang ditinggalkan cukup dengan mengerjakan shalat sunnah Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib dan Isya, karena saya telah meninggalkan shalat selama bertahun-tahun. Atau seseorang itu harus mengqadha shalat wajib tersebut yang mana setan telah membuatnya lalai darinya? Mohon dijelaskan.

Jawaban:
Barangsiapa meninggalkan shalat wajib dengan sengaja, bermalas-malasan dan meremehkannya, berarti ia telah melakukan kejahatan yang besar melebihi perbuatan zina, mencuri atau yang selainnya dari dosa-dosa besar. Dan ia dihukumi telah kafir dengan kekufuran yang besar menurut pendapat yang lebih shahih dari dua pendapat ulama. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh sahabat Buraidah bin al-Husaib radhiyallaahu ‘anhu, 

َالعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَر

Perjanjian yang memisahkan antara kami dan mereka (orang-orang kafir) adalah shalat, maka barangsiapa yang meninggalkannya berarti ia telah kafir.(HR. at-Tirmidzi no. 2621, hadits shahih)

Juga sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah radhiyallaahu ‘anhu, 

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ

Sesungguhnya pembatas antara seorang laki-laki (muslim) dengan kesyirikan dan kekufuran ialah meninggalkan shalat.(HR. Muslim no. 82)

Dan juga hadits-hadits lain yang masih semakna. Adapun jika meninggalkannya karena mengingkari kewajibannya, maka secara ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin ia dihukumi telah kafir dengan kekufuran yang besar. Wajib bagi orang yang meninggalkan shalat wajib karena mengingkari kewajibannya atau karena bermalas-malasan dan meremehkannya untuk segera bertaubat kepada Allah subhaanahu wata’aala, yaitu disertai dengan penyesalan atas apa yang telah dilakukan, tekad yang benar untuk tidak mengulanginya lagi, serta terus berusaha untuk tetap menjaganya, sebagai bentuk rasa takut kepada Allah subhaanahu wata’aala , pengagungan kepada-Nya dan menunaikan apa yang menjadi hak-Nya. Barangsiapa bertaubat kepada Allah subhaanahu wata’aala dengan sebenar-benarnya taubat (taubat nasuha), niscaya Allah subhaanahu wata’aala akan mengampuninya. Hal ini berdasarkan firman Allah subhaanahu wata’aala:

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ 

“....Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. an-Nur: 31)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا


“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya.....” (QS. at-Tahrim: 8)

وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى 

“Dan sungguh Aku Maha Pengampun bagi yang bertaubat, beriman dan berbuat kebajikan, kemudian tetap dalam petunjuk.” (QS. Thaha: 82)

Juga sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam:

ُالتَائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لاَ ذَنْبَ لَه

“Orang yang bertaubat dari perbuatan dosa layaknya orang yang tidak memiliki dosa.” (HR. Ibnu Majah no. 4250)

Dan ia tidak wajib mengqadha shalat-shalat yang telah ditinggalkan, karena taubat nasuha sudah mencukupi. Kita memohon kepada Allah subhaanahu wata’aala agar senantiasa menjaga kaum muslimin tetap di atas agamanya, memberikan petunjuk orang-orang yang tersesat kepada jalan yang benar, sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Menjawab. 

(Majmu’ Fatawa Ibnu Baaz, 10/323-324)

=======
Sumber: Majalah Shafa

0 Response to "Cara dan Hukum Qadha Shalat karena Malas, Lupa dan Tertidur"

Post a Comment