Hukum Wanita Memakai Pakaian Ketat dan Mengecat Rambut

Hukum Pakaian Ketat, Mengecat Rambut, Mencukur Bulu Tangan dan Betis.

Renungan nasehat untuk wanita


Pakaian Ketat Seorang Wanita

Pertanyaan:
Bolehkah seorang wanita memakai pakaian ketat, yang menampakkan lekukan punggung, buah dada dan pinggangnya, yang menampakkan keindahan tubuh lainnya, yang tidak menutupi kedua lengan, leher, dan sebagian dadanya di depan para wanita maupun para mahramnya? Apakah memakai pakaian ketat ini hanya dibolehkan di depan para wanita yang masih semahram saja atau boleh pula di depan para wanita asing yang lain?

Jawaban:
Pertanyaan ini memiliki dua point penting: 

Pertama, terkait masalah pakaian wanita yang ketat sehingga tergambar jelas bagaimana lekukan anggota tubuhnya. Berdasarkan nash-nash syariat dan kaidah-kaidah yang ada, pakaian seorang wanita muslimah disyaratkan harus longgar dan tidak ketat. Inilah yang sesuai dengan fungsi dari sebuah pakaian, yaitu sebagai penutup. Sehingga tubuh seorang wanita akan tertutupi dari pandangan orang lain untuk menghindari terjadinya fitnah dan kerusakan. Adapun pakaian ketat jelas bertentangan dengan tujuan syariat semacam ini, karena pakaian tersebut akan menampakkan lekukan tubuhnya. Sehingga tujuan yang dimaksud untuk menutupi tidaklah tercapai. Bahkan terkadang pakaian ketat justru lebih memprovokasi terhadap munculnya fitnah dan terjebak dalam fitnah. Dengan demikian, haram bagi seorang wanita muslimah memakai pakaian ketat di depan para mahramnya, selain suaminya, juga haram baginya memakai pakaian itu di depan para wanita lain apabila hanya menutupi bagian dari pusar sampai lututnya, seperti celana pendek, atau menutupi seluruh tubuhnya, namun merangsang munculnya fitnah wanita dan nafsu birahi.

Kedua, terkait apa saja yang halal bagi seorang wanita untuk menampakkan sebagian perhiasannya di depan para mahramnya, selain suaminya, yaitu wajah, kedua telapak tangan, gelang kaki, antinganting, gelang tangan, kalung, kepala dan kedua kakinya. 

(Fatawa al-Lajnah an-Da’imah, 24/35)

Menghilangkan Bulu Rambut pada Tangan dan Betis Wanita

Pertanyaan:
Apa hukum menghilangkan bulu rambut yang tumbuh pada kedua lengan dan betis yang banyak tersebar di kalangan wanita? Apakah makna namsh (mencabut bulu) hanya sebatas pada bulu alis saja atau mencakup bulu yang ada di betis, karena lafadz haditsnya bersifat mutlak?

Jawaban:
Mencukur bulu yang tumbuh pada kedua lengan dan betis atau menghilangkannya dengan minyak tertentu atau yang sejenisnya tidaklah dilarang. Karena terkadang bulu-bulu ini menganggu dan menjadikan kulit terasa kasar. Namsh (mencabut bulu) yang dilarang ialah menghilangkan bulu alis, baik dengan cara dicukur habis, dicabut atau sekedar dipendekkan. Sehingga menghilangkan bulu yang tumbuh pada betis maupun lengan tidak masuk dalam makna namsh yang diharamkan dalam sabda Nabi shallallaahu 'alaihi wasalam:

“Allah melaknat wasyimat (wanita pembuat tato) dan mustausyimat (wanita yang minta ditato), namishat (wanita pencabut bulu alis) dan mutanamishat (wanita yang meminta dicabut bulu alisnya).” (HR. Muslim no. 2125)

Setiap wanita wajib untuk berpegang dengan apa yang datang dari Nabi shallallaahu 'alaihi wasalam dan meninggalkan apa yang tidak boleh dilakukan, seperti mencabut bulu alis, bertato, kikir gigi, dan merubah ciptaan-ciptaan Allah subhaanahu wata'aala yang lainnya. 

(Fatawa Syaikh Ibnu Jibrin, al-Maktabah as-Syamilah)

Mengecat Rambut dengan Warna Hitam

Pertanyaan:
Aku memiliki seorang teman perempuan yang telah mengecat rambutnya dengan warna hitam, namun ia tidak tahu bahwa hukumnya haram. Setelah tahu hukumnya, kini ia bertanya kepadaku, “Apakah saya harus mengembalikan warna rambut dengan cat warna yang lain atau dibiarkan begitu saja? Dan apakah menghilangkan bulu yang tumbuh di antara dua alis termasuk hal yang diharamkan?”

Jawaban:
Pertama, apabila rambut kepalanya sudah ada yang beruban, mengecat dengan warna hitam hukumnya haram. Adapun jika warna rambutnya hitam semua, maka tidak masalah mengecatnya dengan warna hitam. Barangsiapa melakukan hal itu (mengecat rambutnya yang sudah beruban dengan warna hitam, pent.), baik laki-laki maupun perempuan, ia tahu dan sengaja, maka ia telah berbuat dosa. Wajib baginya untuk bertaubat, beristighfar, menyesali perbuatannya dan bertekad tidak mengulanginya. Untuk menyempurnakan taubatnya maka ia harus menghilangkan warna hitam itu menggunakan sesuatu yang tidak membahayakan. Adapun apabila belum tahu hukumnya, maka ia tidak berdosa, tapi ia harus tetap menghilangkan warna itu, karena ia memiliki alasan untuk menghapusnya dan tidak ada alasan baginya untuk tetap membiarkan.

Kedua, terkait hukum menghilangkan bulu rambut yang tumbuh di antara dua alis, jawabannya sudah disampaikan oleh para ulama yang ada di al-Lajnah ad-Da’imah bahwa hal itu bukan termasuk bulu alis, sehingga boleh dihilangkan. Wallahu a’lam 

(Fatawa Syaikh Muhammad Shalih al-Munajid, al-Maktabah as-Syamilah)

=================
Sumber: Majalah Shafa
Judul Asli : Fatwa Seputar Wanita

0 Response to "Hukum Wanita Memakai Pakaian Ketat dan Mengecat Rambut"

Post a Comment