Perbedaan antara Zakat, Infak, Sedekah, Hadiah dan Hibah

Perbedaan antara Zakat, Infak, Sedekah, Hadiah dan Hibah - Banyak diantara kaum muslimin yang masih salah dalam memahami pengertian istilah-istilah tersebut, maka pada artikel ini kami akan sedikit menjelaskan tentang apa itu zakat, infak, sedekah, hadiah, dan hibah.

Perbedaan zakat dan infak


Pada episode kali ini cermin dermawan menyuguhkan kepada pembaca akan perbedaan istilah zakat, infak, sedekah, hadiah dan hibah, baik secara etimologi maupun terminologi, berikut konsekuensi hukum yang terkait dengannya.

Tinjauan etimologi dan terminologi

Secara umum setiap istilah syariat memiliki makna etimologi dan terminologi. Tinjauan istilah secara etimologi atau linguistik sendiri membantu kita menarik benang merah pengertian istilah tersebut menurut syariat.

a. Zakat

Zakat ( الزكاة ) secara bahasa merupakan deformasi dari kata  (زكا - يزكو - زَكَاءً - زَكَوًا) yang secara linguistik memiliki makna plural.[1] Berkata asy-Syarbini, “Zakat secara bahasa bermakna tumbuh, berkah, dan bertambah kebaikan. Dikatakan zaka az-Zar’u yakni jika tanaman semakin bertumbuh. Dikatakan Zakat an-Nafaqah yakni jika nafkah mendapat keberkahan. Dikatakan Fulan Zakin yakni jika dia memiliki banyak kebaikan. Sebagaimana pula zakat juga dimutlakkan untuk pengertian suci, sebab Allah subhaanahu wata'aala berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا

Sungguh beruntung orang-orang yang menyucikan jiwa.”[2]

Yakni menyucikannya dari kotoran hati. Sebagaimana pula zakat juga dimutlakkan untuk makna sanjungan, sebab Allah subhaanahu wata'aala berfirman:

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ

Dan janganlah kalian mentazkiyah diri kalian sendiri.”[3] Yakni jangan menyanjungnya.”[4]

Adapun definisi zakat menurut syara’ ialah, “Suatu istilah untuk menunjukkan kadar tertentu, dari suatu harta tertentu, yang diberikan kepada orang-orang tertentu, dengan syarat yang dijelaskan para ulama.” Disebut zakat karena harta yang dizakati akan terus bertambah keberkahannya, disamping mendapat keberkahan doa dari orang yang mengambil, serta menyucikan orang yang berzakat dari dosa.”[5]

b. Infak

Infak secara bahasa merupakan mashdar dari kata (أنفق - ينفق) Dikatakan anfaqa ar-Rajulu yakni jika ia menjadi miskin dan hilang hartanya, sebagaimana Allah subhaanahu wata'aala berfirman:

إِذًا لَّأَمْسَكْتُمْ خَشْيَةَ الْإِنفَاقِ

Niscaya perbendaharan (harta) itu kamu tahan, karena takut menjadi fakir.”[6]

Dan dikatakan anfaqa ad-Darahim (menginfakkan dirham) yaitu dari kata an-Nafaqah.[7]

Adapun infak secara terminologi ialah, “Mengalokasikan harta untuk suatu kebutuhan.”[8] Dan disebut infak manakala harta yang digunakan ialah milik sendiri, untuk kemudian harta tersebut berpindah kepemilikannya kepada pihak yang diberi infak.[9]

Infak secara umum, memiliki makna yang sempit, yakni hanya terpaku pada pemberian harta semata. Berbeda dengan sedekah yang memiliki makna lebih luas.

c. Sedekah

Sedekah merupakan kata serapan dari bahasa Arab, dari kata ash-Shadaqah yang merupakan turunan dari kata ash-Shidqu (kejujuran). Disebut demikian karena sedekah menjadi bukti kejujuran iman dari orang yang mengeluarkannya.[10]

al-Jurjani menyebutkan bahwa sedekah secara syara’ ialah, “Pemberian yang diharapkan padanya pahala dari Allah.”[11] Sedekah ini bersifat umum, tidak terpaku pada harta semata. Karena hadits menyebutkan bahwa barometer sedekah ialah setiap amal baik yang dilakukan oleh seorang hamba, yang mencakup ucapan maupun perbuatan. Namun makna sedekah dipersempit penggunaannya dalam bahasa Indonesia kepada pemberian harta.

d. Hadiah

Asal kata hadiah ialah dari perkataan Hada asy-Sya’i yakni jika dihadapkan untuk sesuatu. Dan hadiah dinamakan hadiah karena ia diberikan pada saat diperlukan.[12]

Adapun secara syara’ ialah sebagaimana yang dijelaskan oleh al-Imam an-Nawawi, “Jika pemberian diserahkan kepada orang yang diberi sebagai bentuk penghormatan baginya, maka hal tersebut (dinamakan) hadiah.”[13]

e. Hibah

Berkata Ibnu al-Mandhur, “al-Hibah yakni pemberian yang tidak diharapkan darinya ganti atau tidak memiliki tujuan tertentu. Jika seorang banyak memberi, maka ia disebut dengan wahhab.”[14]

Beliau juga berkata, “(Dikatakan) (ووَهَبْتُ له هِبةً ومَوهِبَةً ووَهْباً ووَهَباً) “Aku menghibahkan kepadanya hibah, mauhibah, wahban, atau wahaban[15] yakni jika engkau memberinya (sebuah pemberian).”[16]

Sedangkan menurut syara’ al- Imam an-Nawawi mengatakan, “Menyerahkan kepemilikan (benda) tanpa mengharapkan ganti disebut hibah.”[17]

Penggunaan Istilah

Bertolak dari definisi ulama tentang istilah-istilah diatas, maka dapat kita simpulkan penggunaan istilah -istilah tersebut yang tepat, berdasarkan penggunaan makna spesifiknya secara sederhana.

Zakat, dititikberatkan pada kewajibannya. Setiap harta komoditi zakat yang telah mencapai nishab dan berlalu satu tahun hijriyah maka wajib dizakati.

Infak, dititikberatkan pada pemberian berupa harta. Setiap pemberian berupa harta di jalan Allah subhaanahu wata'aala, baik wajib maupun sunah disebut infak.

Sedekah, yakni setiap kebaikan yang diharapkan pahalanya. Namun, makna sedekah dalam bahasa Indonesia dipersempit pada sedekah harta yang diharapkan pahalanya.

Hadiah, yakni sebuah pemberian sebagai bentuk penghormatan. Jika diberikan tanpa ada rasa penghormatan kepada yang diberi maka disebut hibah.

Hibah, yaitu pemberian sukarela tanpa tendensi atau mengharap ganti apapun.

Konsekuensi Hukum

Setiap istilah diatas mengandung konsekuensi hukum yang berbeda-beda. Diantaranya ada yang wajib, sunah ataupun mubah.

Yang wajib, ialah zakat, infak wajib semisal nafkah suami kepada istri.
Yang sunah, ialah infak sunah semisal menyantuni yatim, sedekah dan hadiah.
Yang mubah, ialah hibah. Setiap perbuatan diatas bernilai pahala di sisi Allah subhaanahu wata'aala, jika pelakunya ikhlas dan mengharapkan pahala dari-Nya. Demikian pula dengan hibah, yang bisa bernilai pahala jika pelakunya ikhlas, serta mengharapkan pahala dari Allah subhaanahu wata'aala. Namun pada kondisi ini, hibah tersebut dikategorikan sebagai sedekah.

Kesimpulan

Dengan membedakan istilah-istilah tersebut dan konsekuensi hukumnya, diharapkan para pembaca mampu menilai sendiri, apa yang kira-kira harus diprioritaskan dari hartanya. Pertama yaitu nafkah wajib, dan zakat jika telah memenuhi syarat. Untuk selanjutnya ia boleh menjadikannya sebagai infak dan sedekah secara umum, atau pun hibah. Wallahu A’lam.

Footnote:
1) Lihat al-Qamus al-Muhith, hal. 1667.
2) QS. asy-Syams : 9
3) QS. an-Najm: 32
4) Lihat Mughni al-Muhtaj, I/547.
5) Ibid.
6) QS. al-Isra: 100.
7) Lihat Mukhtar ash-Shihah, hal. 688.
8) Lihat At-Ta’rifat, hal. 57.
9) Lihat al-Furuq al-Lughawiyah, hal. 82
10) Lihat Fathul Qadir, I/596).
11) Lihat At-Ta’rifat, hal. 174.
12) Lihat Al-Furuq al-Lughawiyah, hal. 556.
13) Lihat Minhaju ath-Thalibin, hal. 324.
14) Lihat Lisan al-Arab, I/803.
15) Ketiganya bermakna hibah
16) Lihat Lisan al-Arab, I/803.
17) Lihat Minhaju ath-Thalibin, hal. 324.

===========
Sumber: Majalah Shafa
Oleh: Abu Ukasyah Sapto B. Arisandi
Judul Asli: Mengenal Zakat, Infak, Sedekah, Hadiah dan Hibah.

0 Response to "Perbedaan antara Zakat, Infak, Sedekah, Hadiah dan Hibah"

Post a Comment