Puasa-puasa Sunnah dalam Islam beserta Dalilnya

Puasa-puasa Sunnah dalam Islam Beserta Dalilnya - Puasa merupakan salah satu amalan yang sangat agung disisi Allah subhaanahu wa ta'aala, bahkan dalam hadits riwayat Imam Muslim nomor 1151 disebutkan bahwa semua amal kebaikan akan dilipatgandakan menjadi 10 kebaikan yang semisal sampai 700 kali lipat "kecuali puasa" Allah subhaanahu wa ta'aala yang akan membalas langsung pahala orang yang berpuasa (maksudnya, Allah akan memberi pahala dari amal puasa seseorang tanpa ada batas kadar pahalanya). Hal ini sebagaimana pendapat Al-Qurtuby rahimahullah dan diperkuat dengan firman Allah subhaanahu wa ta'aala dalam surah Az-Zumar ayat 10; "Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas".

Diantara manfa'at puasa sunnah ialah melengkapi kekurangan-kekurangan yang terdapat pada amalan-amalan wajib, dan dengan amalan sunnah seseorang dapat meraih cinta Allah subhaanahu wa ta'aala.

Banyak ummat muslimin yang berlomba-lomba dalam melaksanakan ibadah puasa khususnya pada bulan Ramadhan, akan tetapi sebagian dari saudara-saudara kita ada yang hanya berpuasa pada bulan Ramadhan saja tanpa menambah dengan puasa-puasa sunnah. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa kemungkinan, diantaranya ialah karena ketidak tahuan seseorang tentang hari-hari yang disunnahkan baginya untuk berpuasa.

Maka pada tulisan ini kami akan sedikit membahas tentang puasa-puasa sunnah yang dianjurkan dalam Islam beserta dengan dalil-dalilnya. Berikut penjelasannya,

Puasa-Puasa Sunnah dalam Islam

 Puasa sunnah beserta dalilnya
Puasa sunnah dalam Islam


Pertama: Puasa pada hari Senin dan Kamis

Dalilnya adalah:

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِى وَأَنَا صَائِمٌ

Artinya: “Seluruh amalan dihadapkan (kepada Allah) pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka jika amalanku dihadapkan (kepada Allah) disa'at aku sedang berpuasa.” (HR. Tirmidzi nomor 747. Shahih dilihat dari jalur lainnya).

Dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anhaa, beliau berkata,
إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَتَحَرَّى صِيَامَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ.
Artinya: “Sesungguhnya Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sering menjadikan pilihan untuk berpuasa pada hari senin dan hari kamis.” (HR. An Nasai no. 2360 dan Ibnu Majah no. 1739. Shahih)

Kedua: Puasa Tiga Hari Setiap Bulan Hijriyah (Ayyamul biid; tanggal 13, 14 dan 15)

Puasa sunnah 3 hari pada setiap bulan-bulan hijriyah (atau biasa dikenal dengan ayyaamul biidh) boleh dilakukan pada tanggal berapa saja, akan tetapi yang paling diutamakan untuk dilakukan ialah pada tanggal 13, 14 dan 15 (pertengahan bulan-bulan hijriyah).

Dalilnya:

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhuu, ia berkata,

أَوْصَانِى خَلِيلِى بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاَةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ

Artinya: “Kekasihku (yaitu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam) telah mewasiatkan kepadaku tiga hal yang aku tidak meninggalkannya sampai aku meninggal dunia (yaitu) [pertama] berpuasa tiga hari pada setiap bulan, [kedua] melaksanakan shalat Dhuhaa, [ketiga] melaksanakan shalat witir sebelum tidur.”( HR. Bukhari nomor 1178)

Mu’adzah bertanya pada ‘Aisyah,

أَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ قَالَتْ نَعَمْ. قُلْتُ مِنْ أَيِّهِ كَانَ يَصُومُ قَالَتْ كَانَ لاَ يُبَالِى مِنْ أَيِّهِ صَامَ. قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Artinya: “Adakah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berpuasa tiga hari pada setiap bulan?” ‘Aisyah menjawab, “Iya.” lalu Mu’adzah berkata, “Pada hari apa beliau melakukan puasa tersebut?” ‘Aisyah berkata, “Beliau tidak peduli pada hari apa beliau berpuasa (maksudnya beliau berpuasa pada hari apa saja yang beliau kehendaki).” (HR. Tirmidzi nomor 763 dan Ibnu Majah nomor 1709. Shahih)

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhumaa, beliau berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُفْطِرُ أَيَّامَ الْبِيضِ فِي حَضَرٍ وَلَا سَفَرٍ

Artinya: “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan puasa pada ayyamul biidh sa'at tidak melakukan safar maupun ketika melakukan safar.” (HR. An Nasai no. 2345. Hasan).

Dari Abu Dzar, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda padanya,

يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فَصُمْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ

Artinya: “Wahai Abu Dzarr, jika engkau ingin berpuasa tiga hari pada setiap bulan, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan tanggal 15 (dari bulan-bulan Hijriyah).” (HR. Tirmidzi nomor 761 dan An-Nasai nomor 2424. Hasan)

Ketiga: Puasa Daud

Puasa Nabi Daud 'alaihi as-salaam dilakukan dengan cara sehari berpuasa dan sehari tidak (selang seling).

Dalilnya:

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أحَبُّ الصِّيَامِ إلى اللهِ صِيَامُ دَاوُدَ، وَأحَبُّ الصَّلاةِ إِلَى اللهِ صَلاةُ دَاوُدَ: كَانَ يَنَامُ نِصْفَ الليل، وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ، وَكَانَ يُفْطِرُ يَوْمًا وَيَصُوْمُ يَوْمًا

Artinya: “Puasa yang sangat disukai oleh Allah adalah puasa Nabi Daud. Shalat yang sangat disukai Allah adalah Shalat Nabi Daud. Beliau biasa tidur separuh malam, dan bangun pada sepertiganya, dan tidur pada seperenamnya. Beliau biasa berbuka (tidak puasa) sehari dan berpuasa sehari.” (HR. Bukhari nomor 3420 dan Muslim nomor 1159)

Dari ‘Abdullah bin ‘Amru radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

أُخْبِرَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنِّى أَقُولُ وَاللَّهِ لأَصُومَنَّ النَّهَارَ وَلأَقُومَنَّ اللَّيْلَ مَا عِشْتُ . فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « أَنْتَ الَّذِى تَقُولُ وَاللَّهِ لأَصُومَنَّ النَّهَارَ وَلأَقُومَنَّ اللَّيْلَ مَا عِشْتُ » قُلْتُ قَدْ قُلْتُهُ . قَالَ « إِنَّكَ لاَ تَسْتَطِيعُ ذَلِكَ ، فَصُمْ وَأَفْطِرْ ، وَقُمْ وَنَمْ ، وَصُمْ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ ، فَإِنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا ، وَذَلِكَ مِثْلُ صِيَامِ الدَّهْرِ » . فَقُلْتُ إِنِّى أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ . قَالَ « فَصُمْ يَوْمًا وَأَفْطِرْ يَوْمَيْنِ » . قَالَ قُلْتُ إِنِّى أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ . قَالَ « فَصُمْ يَوْمًا وَأَفْطِرْ يَوْمًا ، وَذَلِكَ صِيَامُ دَاوُدَ ، وَهْوَ عَدْلُ الصِّيَامِ » . قُلْتُ إِنِّى أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ . قَالَ « لاَ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ » .


Artinya: Telah disampaikan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bahwa aku berkata; “Demi Allah, sungguh aku benar-benar akan berpuasa setiap hari dan sungguh aku akan qiyaamul laiil sepanjang hayatku.” Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya (‘Abdullah bin ‘Amru): “Benarkah kamu yang telah berkata; “sungguh aku benar-benar akan berpuasa setiap hari dan sungguh aku akan qiyaamul laiil sepanjang hayatku?“. aku menjawab; “Demi ayah dan ibuku sebagai tebusannya, sungguh aku yang telah mengatakan perkataan tersebut“. Maka Beliau berkata: “Sesungguhnya kamu tidak akan mampu melakukannya. Maka berpuasalah dan berbukalah, shalatlah malam hari dan tidurlah dan berpuasalah tiga hari pada setiap bulan karena sesungguhnya kebaikan itu akan dibalas dengan 10 kebaikan yang semisal dan hal itu seperti berpuasa sepanjang tahun.” Aku katakan; “Sesungguhnya aku mampu melakukannya lebih dari itu, wahai Rasulullah“. Beliau berkata: “Kalau demikian berpuasalah satu hari dan berbukalah dua hari”. Aku katakan lagi: “Sesungguhnya aku mampu melakukannya lebih dari itu“. Beliau berkata: “Kalau demikian berpuasalah satu hari dan berbukalah satu hari, puasa itu adalah puasanya Nabi Allah Daud ‘alaihi salam yang termasuk puasa yang sangat utama“. Aku katakan lagi: “Sesungguhnya aku mampu melakukannya lebih dari itu“. Maka beliau bersabda: “Tidak ada puasa yang lebih utama daripada itu“. (HR. Bukhari nomor 3418 dan Muslim nomor 1159)

Ibnu Hazm berkata, “Hadits ini menerangkan bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang berpuasa lebih dari puasa Nabi Daud yaitu sehari puasa sehari tidak.”

Ke-Empat: Puasa di Bulan Sya’ban

‘Aisyah radhiyallaahu ‘anhaa mengatakan,

لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ

Artinya: “Tidaklah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada suatu bulan yang melebihi bulan Sya’ban. Sesungguhnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban sebulan penuh.” (HR. Bukhari nomor 1970 dan Muslim nomor 1156).

Dalam lafazh Imam Muslim, ‘Aaisyah radhiyallaahu ‘anhaa mengatakan,

كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلاَّ قَلِيلاً

Artinya: “Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa dalam bulan Sya’ban kecuali sedikit hari saja.” (HR. Muslim nomor 1156)

Maksudnya adalah berpuasa pada kebanyakan hari di bulan sya'baan (bukan puasa sebulan penuh). Hal ini sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Az-Zain ibnul Munir. Para ulama mengatakan bahwa Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak melaksanakan puasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan saja, supaya tidak disangka bahwa puasa-puasa selain di bulan Ramadhan adalah wajib.

Kelima: Puasa 6 Hari di Bulan Syawal

Dalilnya:

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Artinya: “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan kemudian diikuti dengan puasa 6 hari dalam bulan Syawwaal, maka dia seakan-akan melakukan puasa selama setahun penuh.” (HR. Muslim nomor 1164)

Ke-Enam: Puasa di Awal bulan Dzulhijjah

Dalilnya:

Dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ

Artinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa di 9 hari awal bulan Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa 3 hari setiap bulannya, …” (HR. Abu Daud nomor 2437. Shahih).

Ketujuh: Puasa ‘Arofah (9 Dzulhijjah)

Puasa ‘Arofah adalah puasa sunnah yang dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijjah. 

Dalilnya:

Abu Qotadah Al Anshoriy berkata, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa ‘Arofah. Beliau menjawab,

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

Artinya: ”Puasa pada hari ‘Arofah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa Pada hari ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu” (HR. Muslim no. 1162)

Sedangkan untuk orang yang berhaji tidak dianjurkan melaksanakan puasa ‘Arofah. Dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata,
أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- أَفْطَرَ بِعَرَفَةَ وَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ أُمُّ الْفَضْلِ بِلَبَنٍ فَشَرِبَ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berpuasa ketika di Arofah. Ketika itu beliau disuguhkan minuman susu, beliau pun meminumnya.” (HR. Tirmidzi no. 750. Hasan shahih).

Kedelapan: Puasa pada hari ‘Asyura (10 Muharram)

Dalilnya:

Dari Abu Qotadah, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

Artinya: “Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah yaitu bulan Muharram, Dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.” (HR. Muslim nomor 1163).

Puasa ‘Asyura dilakukan pada tanggal 10 Muharram. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkeinginan di akhir hayatnya untuk melakukan puasa ‘Asyura tidak sehari saja, namun juga berpuasa pada 9 Muharram. Dengan tujuan menyelisihi puasa ‘Asyura yang dikerjakan Ahlul Kitab. Akan tetapi belumlah sampai 9 muharram pada tahun berikutanya, beliau telah lebih dahulu meninggal dunia. (hal ini diterangkan oleh Ibnu Abbas radhiyallaahu 'anhuu pada HR. Muslim nomor 1134)


Ketentuan dalan Melaksanakan Puasa-puasa Sunnah


Dalam melaksanakan puasa-puasa sunnah ada beberapa ketentuan yang sedikit berbeda dengan pelaksanaan puasa wajib di bulan Ramadhan. Diantaranya sebagai berikut:

1. Boleh berniat untuk berpuasa sunnah setelah terbit fajar selama belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.

Dalilnya:

Dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anhaa, ia berkata,

دَخَلَ عَلَىَّ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ « هَلْ عِنْدَكُمْ شَىْءٌ ». فَقُلْنَا لاَ. قَالَ « فَإِنِّى إِذًا صَائِمٌ ». ثُمَّ أَتَانَا يَوْمًا آخَرَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أُهْدِىَ لَنَا حَيْسٌ. فَقَالَ « أَرِينِيهِ فَلَقَدْ أَصْبَحْتُ صَائِمًا ». فَأَكَلَ.

Artinya: “Telah mendatangi ku Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam di suatu hari, lalu Beliau bertanya: Apakah kalian mempunyai sesuatu (makanan atau minuman)? Maka kami menjawab: Tidak ada, lalu Beliau berkata: Jika begitu maka aku berpuasa. Kemudian beliau mendatangi kami pada hari lainnya, lalu kami berkata: Wahai Rasulullaah kami di beri hadiah berupa Hais (makanan dari kura, samin dan keju). Maka Beliau berkata: Berilah kepada ku hais itu, sungguh aku berpuasa tadi pagi." (HR. Muslim nomor 1154). 

2. Boleh melanjutkan atau membatalkan puasa sunnah. Dalilnya hadits dari 'Aisyah radhiyallaahu ‘anhaa yang telah kami tulis diatas.

3. Istri tidak boleh berpuasa sunnah kecuali dengan izin suaminya.

Dalilnya:

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَصُومُ الْمَرْأَةُ وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

Artinya: “Janganlah seorang wanita (istri) berpuasa sementara suaminya ada kecuali dengan izin suaminya” (HR. Bukhari nomor 5192 dan Muslim nomor 1026)

Puasa yang dimaksud diatas adalah puasa sunnah, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Imam An-Nawawi rahimahullaah.


Demikianlah sedikit penjelasan seputar puasa-puasa sunnah di dalam Islam, semoga kita dimudahkan oleh Allah subhaanahu wa ta'aala untuk mengamalkan puasa-puasa sunnah

0 Response to "Puasa-puasa Sunnah dalam Islam beserta Dalilnya"

Post a Comment