Kenapa Perayaan Tahun Baru di Haramkan dalam Islam?

Hukum Merayakan Tahun Baru Masehi | Ikhwan Sunnah – Bagi sebagian orang tahun baru merupakan hal yang sangat dinanti-nantikan dan tidak jarang banyak dari mereka yang merayakan momen tahun baru tersebut dengan berbagai macam bentuk perayaan. Pada kesempatan kali ini kita akan sedikit menjelaskan bagaimana islam memandang tentang perayaan tahun baru tersebut.

(penjelasan ini juga bisa disimak dalam bentuk video ceramah singkat, klik disini)

Hukum Perayaan Tahun Baru Masehi


Dalam pandangan syari’at islam perayaan tahun baru memiliki beberapa kekeliruan dan kesalahan bahkan kemungkaran, sehingga perayaan tahun baru diharamkan dalam islam.

Secara garis besar ada dua alasan kenapa perayaan tahun baru diharamkan:

Yang pertama : Perayaan tahun baru mengandung unsur tasyabbuh, yaitu menyerupai atau mengikuti syi’ar orang-orang kafir (non muslim).

Perayaan tahun baru merupakan syi’ar orang-orang kafir. Maka dari sisi ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang kaum muslimin untuk bertasyabbuh, yaitu menyerupai syi’ar orang-orang kafir. Sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ


“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

[Syaikhul Islam dalam Iqtidho‘ (1/269) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no. 1269.]

Tasyabbuh diharamkan berdasarkan dalil Al-Qur’an, As Sunnah dan kesepakatan para ulama (ijma’). Maka tasyabbuh sangat jelas pengharamannya. [Lihat penukilan ijma’ (kesepakatan ulama) yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Iqtidho’ Ash Shirotil Mustaqim, 1/363, Wazarotu Asy Syu-un Al Islamiyah, cetakan ketujuh, tahun 1417 H.]

Yang kedua : Perayaan tahun baru mengandung peribadatan yang tidak ada tuntunannya. 

Sebagian orang merayakan tahun baru dengan melakukan amalan-amalan tertentu yang dikhususkan pada malam pergantian tahun baru, padahal tidak ada dalil yang menunjukkan akan pengsyari’atannya. Maka dari sisi ini perayaan tahun baru termasuk suatu bentuk merekayasa amal ibadah tanpa ada dalil yang menunjukkan pensyari’atannya.

Dan perlu kita ketahui bahwa dalam islam, ibadah itu hukum dasarnya adalah haram sampai ada dalil yang menunjukkan akan anjurannya. Maka apabila suatu ibadah itu tidak ada dalilnya maka ibadah tersebut hukumnya kembali kepada hukum dasarnya yaitu haram.

Untuk lebih jelasnya mari kita simak sebuah hadits dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :


مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ


“Barang siapa yang mengada-adakan suatu amal dalam agama kami ini padahal bukanlah bagian dari agama maka amal tersebut tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sebagian orang ada yang beralasan dengan mengatakan “yang penting ibadah yang kami lakukan itu dengan niat yang baik, meskipun tidak ada dalil yang mengsyari’atkannya”. Maka kita katakan “Kebaikan yang sesungguhnya adalah kebaikan yang berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, bukan kebaikan menurut logika anda! bukan kebaikan menurut hawa nafsu anda! Karena sesungguhnya yang paling mengetahui tentang kebaikan itu adalah Allah dan Rasul-Nya”.

Pernah suatu ketika Ibnu Mas’ud melihat sekumpulan orang yang berdzikir, namun dzikir yang mereka lakukan itu tidak sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Ibnu Mas’ud pun menegur mereka. Lantas orang-orang tersebut mengatakan kepada Ibnu Mas’ud,


وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ


“Demi Allah, wahai Abu ‘Abdirrahman (yakni Ibnu Mas’ud), tidaklah kami menginginkan melainkan kebaikan semata.”

Ibnu Mas’ud lantas menjawab, yang dengan jawaban ini mematahkan alasan mereka, Ibnu Mas’ud berkata:

وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ


“Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun mereka tidak mendapatkannya.” 

[HR. Ad Darimi. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayid (bagus)].

Maka dalam melakukan suatu ibadah, sekedar niat baik saja tidaklah cukup. Kita juga harus mengikuti tuntunan ibadah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga amalan tersebut dapat diterima di sisi Allah subhanahu wata’ala.

Itulah sekurang-kurangnya dua perkara yang menunjukkan haramnya perayaan tahun baru.

Dan demikianlah sedikit penjelasan dari kami, semoga penjelasan ini dapat dipahami dengan baik. Wallahu ta’ala wa a’lam.


Hukum Merayakan Pergantian Tahun Baru

0 Response to "Kenapa Perayaan Tahun Baru di Haramkan dalam Islam?"

Post a Comment